Kegiatan Literasi Al quran Dalam Konteks Kekinian

Sdn 24 rabangodu utara melaksanakan kegiatan literasi al quran Dalam konteks kekinian , diantara pesan utama dari lima ayat yang turun pertama kali di Gua Hira ini adalah pentingnya literasi Al-Qur’an. Dalam makna yang dinamis dan aksiologis, literasi Al-quran adalah langkah akseleratif dan sistematis dalam menumbuh kembangkan tiga kemampuan utama dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Pertama, kemampuan membaca, menulis dan menghafal Al-Qur’an. Pada tahap ini ditemukan sejumlah metode yang populer. Sebut saja; metode qira’ati, yanbu, Iqra dan metode Imla. Kedua, kemampuan memahami luasan arti dan kedalam makna Al-Qur’an.

Literasi pada tahap ini bisa diwujudkan dalam bentuk interaksi intensif dengan terjemah dan ragam metodologi tafsir. Ketiga, kemampuan menyiarkan pesan Al-Qur’an. Pada tahap ini, literasi Al-Qur’an, bisa dilakukan melalui tiga kegiatan, yakni; khitobah (public speaking Al-Quran), kitabah (writing Al-Qur’an) dan I’lam (Broadcasting Al-Qur’an).

literasi Al-Quran sangat urgen dipraktikan terkait urgensi memiliki ketahan diri di tengah tantangan digitalisasi. Kuatnya pengaruh intenet, telah menghantarkan manusia bersimbiosa dari homo sapien kepada homo digitalis. Hari ini, di sini, dan di negeri ini, dunia digital telah mengambil alih dan menguasai semua sisi kehidupan.


Pusat kesadaran dan keberadaan manusia bukan lagi pada pikiran, sebagai mana Rene Descartes berkata, cogito ergo sum (aku berfikir maka aku ada). Namun berpusat pada digitus, yakni aktivitas jemari dalam; mengunggah (uploading), mengirim pesan (posting), ngobrol (chating), mencari sesuatu (browsing), dan seterusnya.

Penulis Admin